10. Agama dan
Masyarakat
1. Fungsi agama dalam masyarakat
a)
Fungsi
agama dalam pengukuhan nilai-nilai, bersumber pada kerangka acuan yang bersifat
sacral, maka normanya pun dikukuhkan dengan sanksi-sanksi sarkal.
b)
Fungsi
agama dalam bidang sosial adalah fungsi penentu, dimana agama menciptakan suatu
ikatan bersama, baik diantara anggota-anggota beberapa masyarakat maupun dalam
kewajiban sosial yang membantu mempersatukan mereka.
c)
Fungsi
agama sebagai sosialisai individu.
2. Dimensi komitmen agama
a)
Dimensi
keyakinan mengandung perkiraan atau harapan bahwa orang yang religious akan
menganut pendangan teologis tertentu , bahwa ia akan mengikuti kebenaran ajaran-ajaran
agama.
b)
Praktek
agam mencakup perbuatan-perbuatan memuja dan berbakti, yaitu perbuatan untuk
melaksanakan komitmen agama secara nyata. Ini menyangkut, pertama, ritual,
yaitu berkaitan dengan seperangkat upacara keagamaan, perbuatan religious
formal, dan perbuatan mulia. Kedua, berbakti tidak bersifat formal dan tidak
bersifat publik serta relative spontan.
c)
Dimensi
pengalaman memperhitungkan fakta, bahwa semua agama mempunyai perkiraan
tertentu, yaitu orang yang benar-benar religious pada suatu waktu akan mencapai
pengetahuan yang langsung dan subjektif tentang realitas tertinggi, mampu
berhubungan, meskipun singkat dengan suatu perantara yang supernatural.
d)
Dimensi
pengetahuan dikaitkan dengan periraan, bahwa orang-orang yang bersikap
religious akan memiliki informasi tentang ajaran-ajaran pokok keyakinan dan
upacara keagamaan, kitab suci, dan tradisi keagamaan mereka.
e)
Dimensi
konsekuensi dari komitmen religious berbeda dengan tingkah laku perseorangan
dan pembentukan citra pribadinya.
3. 3 tipe kaitan agama dengan masyarakat
a)
Masyarakat
yang terbelakang dan nilai-nilai sacral
Masyarakat tipe ini kecil, terisolasi, dan
terbelakang. Anggota masyakaratnya menganut agama yang sama
1. Agama memasukkan pengaruhnya yang sacral ke
dalam sistem nilai masyarakat secara mutlak.
w. Dalam keadaan lembaga lain selain keluarga
relative belum berkembang
b)
Masyarakat-masyarakat
praindustri yang sedang berkembang
Masyarakatnya tidak terisolasi, ada
perkembangan teknologi yang lebih tinggi daripada tipepertama.
4. Perlembagaan agama
Pelembagaan agama adalah apa
dan mengapa agama ada, unsur-unsur dan bentuknya serta fungsi struktur agama.
STUDI KASUS
Saat duduk bersebelahan di bus TransJakarta 'harus
seagama'
Pengamat menilai bahwa
peristiwa ini adalah 'suatu pertanda membahayakan untuk kebhinnekaan'.
Cuitan dari @cho_ro itu disampaikan
dalam rangkaian yang masing-masing sudah dibagikan lebih dari 1.000 dan lebih
dari 2.600 kali dan disukai lebih dari 300 dan 500 kali.
Dalam cuitannya, perempuan
itu mengatakan bahwa dia mempersilakan seorang ibu berkerudung untuk duduk di
sebelahnya, namun si ibu menolak karena menganggap bahwa @cho_ro bukan seorang
muslim.
"(Saya) jawab,
"eh, saya muslim bu." dia cuma ketawa sambil bilang "oh saya
kira Kristen"," tulisnya dalam cuitannya. "Saya harus bereaksi
apa nih? Logika apa yang bisa membuatmu menolak (tawaran kursi dari) orang
dengan kalimat 'saya Muslim'? Kalau dia bilang, 'oh, (tujuan) saya dekat', 'oh,
saya sakit punggung', saya masih bisa jawab. Itu rasanya shock," kata pemilik akun @cho_ro, perempuan yang
ingin disebut dengan nama akunnya saja kepada BBC Indonesia, Senin (05/02).
Setelah cuitannya banyak
dibagikan, @cho_ro mengatakan bahwa dia menerima komentar bukan hanya dari
orang-orang yang membagikan pengalaman 'serupa', namun juga dari mereka yang
meminta agar dia tidak menceritakan pengalamannya itu.
"Jangan
diceritakan karena nanti memancing perseteruan. Posisinya adalah, saya tuh
mayoritas lho, saya Muslim nih, saya bukan yang beneran Kristen, atau chinese. Saya aja yang mayoritas dibilang, 'oh
nggak usah cerita', bayangin kalau saya benar minoritas," katanya.
Salah satu pengguna media
sosial yang membagikan pengalaman yang kurang lebih serupa adalah Etna Fastiana
lewat akun @etnafst yang mengatakan bahwa dia ditolak untuk naik Uber karena
'disangka Kristen dan cina'.
Kepada
BBC Indonesia, Etna mengatakan bahwa kejadian itu dialaminya sekitar setahun
lalu. "Tidak saya sampaikan ke Uber, karena waktu itu shock aja, bingung. Waktu itu cuma bingung karena kaget
ada orang yang berpikir seperti itu, padahal saya muslim juga, bukan cina"
ujar Etna.
"Seingat saya, kalau
tidak salah memang lagi panas tentang isu pilkada DKI," kata Etna.
Dia sempat menceritakan
pengalaman itu kepada ibunya yang juga "merasa kaget". "Ini hal
paling absurd yang menimpa saya," tambahnya.
Namun @cho_ro tak terlalu
setuju jika insiden ini disebut sebagai ekses pilkada DKI.
"Saya
percaya ini oknum. Saya tidak percaya ini Indonesia kini, ini Indonesia dulu
kayaknya, karena cerita-cerita (seperti ini) pernah baca, selentingan ada, tapi
tidak pernah ketemu, ngalamin itu
nggak pernah. Sekarang jadi terbuka karena ada media sosial," ujarnya.
Pengamat Islam dan pengajar
Universitas Paramadina, Jakarta, Budhy Munawar Rahman mengatakan bahwa memang
kondisi eksklusivisme dan puritanisme sudah ada sebelumnya di masyarakat
Indonesia.
Namun kemudian
elemen-elemen itu kemudian "disuburkan oleh pilkada DKI yang memang
membawa isu SARA, agama, untuk politik".
"Sekarang ini ada
kecenderungan yang tidak terbayangkan sebelumnya bahwa intoleransi itu ada di
hal-hal yang kecil-kecil, sehari-hari, yang dulu tidak terpikirkan," kata
Budhy.
Istilah 'toleransi' dan
'intoleransi', menurut Budhy, biasanya akan merujuk pada hubungan antar-agama
di tingkat isu nasional dan kontroversial, namun kini perkembangannya jadi
masuk ke isu yang kecil dan sehari-hari.
Menurutnya ini terjadi
karena selama ini toleransi lebih sering diwacanakan di tingkat elite, namun
tidak dikembangkan di tingkat masyarakat dalam hal yang sejauh mungkin pada
perjumpaan atau interaksi sosial.
"Contoh
tadi itu kan perjumpaan, sekarang perjumpaan ini dalam hal yang sederhana sudah
mulai menjadi masalah. Kita tidak bisa mengatakan di Indonesia sudah buruk
sekali, tapi fenomena satu, dua seperti ini, ini memberi warning pada kita bahwa kondisi intoleransi sudah
turun pada level masyarakat yang luas," kata Budhy. "Kalau sudah
sampai level duduk bersebelahan antar-agama saja sudah menjadi masalah, itu
sudah menjadi pertanda yang membahayakan sekali."
Beberapa pembaca BBC
Indonesia kini membagikan pengalaman yang mereka rasakan mirip dengan apa yang
terjadi dalam contoh di atas.
Salah satunya adalah
pengguna Hitoshi Kazuya.
Dia menulis,
""Belom lama naek kendaraan umum, karena penuh dan ada wanita (ibu
ibu), gw (gue/saya) ngasih tempat duduk ke beliau "misi bu, ibu duduk saja
disini kursi prioritasnya udah penuh soalnya". Rada lama ibu itu sambil
liat penampilan gw, dan kalung rosario gw diliatin sama dia trus jawab
"enggak usah dek makasih." Yg awalnya rada senyum, langsung
sinis."
Konten tidak tersedia
Pembaca
lain, Ruth Fioel juga menulis,
"Saya dulu juga pernah punya pengalaman rasis kaya gini, waktu itu saya
dan mama saya lagi cari kontrakan yang punya orang betawi, kami memng masih
keturunan cina, karena mungkin yg punya kontrakan lihat mama saya masih ada
tampang cina dengan sombongnya dia bilang "saya mah kalo orang cina ngga
saya kasih ngontrak, biarpun mau di bayar mahal juga""
"Terus mama saya
tanya "kenapa mpok kan yang penting bayarnya lancar" si punya
kontrakan tetep kekeh "ngga deh ngga, saya ngga demen aja sama orang
cina" maaf ya bukan mau menjelekkan orang betawi karena kami sendiri juga
cina betawi, memang ngga semua orang betawi kaya begitu, kebetulan aja ketemu
sm betawi rasis," tambahnya.
Pengguna
lain, Naveka Alfiani Slaberna.
"Jalan2 ke mall bareng temen yg bawa temennya. Duaduanya hijaban. Giliran
lagi istirahat mereka bilangnya ke toilet, gue nunggu lama banget. Pas balik2
mereka ngobrol ternyata abis sholat."
"Gue tanya "yah
kenapa gabilang mau sholat, kan gue juga mau sholat". Eh temennya temen
gue jawab "yah lo gabilang lo muslim. Abisnya dari nama sama muka bukan
nama sama muka muslim sih hahahaha". Gue gatau harus bilang apa,
speechless aja. Emang muka sama nama yg muslim tuh kek mana? Emang keliatan
dari penampilan sekali liat? Haha."
Danielli Amanda Luvita, seorang pembaca lain, merasa pengalaman dua perempuan di atas tidak asing.
"Sudah dari dulu kok
sering sy lihat kejadian serupa di Commuter line. Tapi kejadiannya: sesama
pemakai hijab saling memberikan tempat duduk saat mau turun (celingak celinguk
dulu cari orang yg menurut dia seiman yg terlihat dr pakaiannya, sebelum
mengangkat pantatnya), walau di depannya ada ibu2 yg lebih tua sedang berdiri
(tidak pakai hijab). Sorry to say tapi itu kenyataan yg saya lihat, dan setiap
melihat itu sy hanya bisa memaklumi. Biarlah kalau memang begitu pemahamannya.
Yang penting saya tetap mengasihi siapapun tanpa memandang agama suku dan
ras."
Seorang pembaca dari Siantar, Bhelmant Silalahi, malah memberikan contoh yang berbeda.
"Di sini tdk sedikit
penjual makanan halal dan tdk halal berada dlm satu atap. Pdhl jelas2 tertulis
bakso b*bi, sebelahnya soto ayam yg jual pakai jilbab. Masak jkt kalah sh ama
kota kecil gini," tulisnya.
Sementara
itu, pembaca lain, Litna Tarigan,
mengisahkan pengalamannya pada 1 Januari, setelah pulang beribadah di gereja.
"Kita melewati masjid
menuju rumah,jadi para tetangga pada duduk duduk di teras mesjid,kita yg
membawa suasana suka cita dari gereja ingin berbagi juga di luar.. lalu kita
salami bapak bapak itu sambil bilang selamat tahun baru...yg lucunya yg pertama
sampai ketiga karena sudah kadung dekat dan tangan kita sudah di ulurkan dg
berat hati menyambut salam kita semetara yg lain kabur seolah di kejar anjing
.."
Pembaca lain, Susmalia Alika, berkisah, "Pengalaman ibuku dulu duduk di bus bersebelahan dgn
gafis berhijab. Ibuku putih sipit mungkin dikira non muslim. Pd saat itu memang
ibuku blm berhijab. Sigadis tersebut spt melihat apa ke ibuku. Krn dianggap non
pribumi jg non muslim. Pdhl ibuku betawi n muslim. Jd salahnya apa ya kl tidak
terlihat spt muslim? Wkwkwkwkwk...."
Seorang
pembaca yang beragama Katolik, Johanes Wahyu Agung Wiseso,
juga pernah ditolak tawaran kursinya oleh seorang ibu.
"Gw pernah ngalamin
hal serupa dikereta dari arah jakarta kota menuju bekasi, kereta pada waktu itu
penuh sesak, saya melihat ibu2 ya hampir seumuran dengan mamah saya, posisi
saya duduk, biasalah ya kereta kalo penuh yg duduk ada yg pura2 tidur atau cuek
ngeliat orang yg usianya masuk dalam kategori lansia. saat itu ibu itu saya
tawari duduk, saya colek, dia nengok kesaya.. lalu saya berdiri sambil bilang
bu silahkan duduk, saya pada waktu itu pakai kalung salib, gk tau kenapa dengan
muka judes ibu itu menolak dan bilang jangan sentuh saya sambil mengkibaskan
lengannya yg tadi saya sentuh.. alhasil niat buat kasih duduk ibu itu gk
berhasil, tapi tempat duduk itu malah ditempati orang lain."
Terhadap
kisah-kisah ini, pembaca Yan Tirta mengatakan,
""Hush, jgn diceritain." kata orang. "Hush, udah anggap
angin lalu." kata orang. What? Kalian sudah crazy??? "Penyakit"
ini tanpa orang Jakarta sadari, semakin menyebar kemana2. Sangat mengancam
stabilitas politik."
PENYELESAIAN:
1.
Masyarakat Indonesia sudah seharusnya menyadari perbedaan antara suku,budaya,
dan agama yang ada di Indonesia.
2.
Pemerintahm menghimbau kpd masyarakat untuk menjaga bhineka tunggal ika
3.
Sebagai mahasiswa, cobalah untuk membuka pikiran dan sudut pandang
Daftar
Pustaka :
Buku MKDU Ilmu Sosial Dasar oleh Harwantiyoko dan
Neltje F. Katuuk, Edisi kedua cetakan pertama, Januari 1997, terbitan
Gunadarma.

Comments
Post a Comment